Detail Page

Merayakan Kemenangan di Emperan Rumah Makan

SEJUMLAH anak duduk di emperan sebuah rumah makan cepat saji asal Kentucky, Amerika di Jalan Terusan Buah Batu Bandung. Beralaskan plastik, letak duduk mereka berada di sebelah kanan jalan menuju pintu masuk dekat dengan tempat parkir motor.

Orang-orang berlalu lalang tanpa sedikitpun menengok atau sekadar memberi sapa. Tapi anak-anak itu pun sama tak pedulinya pada orang-orang. Anak-anak itu terlalu fokus sambil  berkhidmat menantikan azan margib datang. Padahal tak jauh dari alas plastik emperannnya, berbaris-baris kursi  dengan beragam bentuk kosong.

Namun anak-anak itu tak berani menduduki.  Tilam (alas) plastik mungkin lebih ‘etis’ ketimbang harus menyerobot kesempatan orang-orang yang lebih berhak sebagai pembeli produk dari rumah makan tersebut.

Kedatangan anak-anak ke rumah makan ini sama seperti orang-orang yang menjalankan puasa, ingin menutup satu hari puasanya dengan buka puasa bersama. Dengan keluarga, saudara, teman, sahabat, atau siapapun yang memiliki minat yang sama.

Keinginan mereka terpenuhi, buka bersama di rumah makan bergengsi walau hanya menggelar di emperan. Menu yang dikonsumsinya bukan dari produk yang dijual dari rumah makan itu, namun dibawa dari rumahnya.

Azan magrib terdengar, salah seorang anak mengeluarkan makanan dalam kresek plastik. Kemudian membagi kepada teman lainnya yang tengah duduk bersila. Dengan keceriaan khas anak-anak, mereka menyantap dengan nikmat nasi goreng tanpa ayam goreng. Terekam jelas rupa kenikmatan. Terpancar perasaan ‘menang’ atas hawa nafsu yang selalu menuntun pada upaya membeda-bedakan status sosial.

Perjamuan usai, buka bersama pun ditutup dengan membereskan kembali wadah tempat makannya. Anak-anak itu pun berpencar melakukan aktivitasnya mencari barang-barang bekas yang dinlianya masih berharga.(*)